Selamat Datang di CAKRAWALAILMU.COM

Hubungan Antara Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Budaya Organisasi dengan Motivasi Kerja Guru

Tuesday, May 15, 20120 komentar

Hubungan Antara Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Budaya Organisasi dengan Motivasi Kerja Guru Sekolah Menengah Atas Negeri di Kota Cirebon

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Lembaga pendidikan seperti Sekolah Menengah Atas merupakan organisasi yang didalamnya mengandung unsur guru, unsur siswa, unsur staf administrasi, dan unsur kepemimpinan sekolah, serta unsur masyarakat yang disebut dengan istilah komite sekolah. Masing-masing unsur ini memiliki tugas dan fungsinya masing-masing  serta tanggungjawab yang diembannya.

Rendahnya peran guru dalam pendidikan, tampak pada proses pengajaran dan pembentukan moral serta nilai ethik peserta didik yang cenderung melemah. padahal guru bertugas untuk mendinamisir pendidikan, dan pengajaran di dalam kelas, sehingga karakter bangsa dapat tercermin pada output pendidikan. Pada kasus tertentu, guru dianggap sebagai sebagai administrator kelas, dan dibantu oleh tenaga kependidikan yang bertugas dalam pengadministrasian lembaga pendidikan.
Pusat seluruh aktivitas guru, dan tenaga administrasi sekolah ini, digerakkan oleh pemimpin lembaga pendidikan yang disebut dengan Kepala Sekolah. Kepala sekolah selain berfungsi memanage seluruh jalannya aktivitas guru, juga ia manajer penting dalam mendinamisir seluruh kegiatan pembelajaran di dalam maupun di luar kelas.
Dilihat dari sisi tanggungjawabnya, kepala sekolah jelas lebih tinggi dan kompleks masalahnya apabila dibandingkan dengan tenaga kependidikan lainnya, di tingkat sekolah. Oleh karena itu, baik buruknya sebuah lembaga pendidikan, sebagian besarnya akan ditentukan oleh sejauhmana kepala sekolah dalam satu satuan, dan satu jenjang pendidikan mampu menggerakan seluruh komponen kependidikan yang tersedia dengan modal kepemimpinan yang dimilikinya. Semakin dia mampu mendinamisir guru, maka semakin besar pula peluang dirinya untuk tampil menjadi pemimpin yang dapat mengelola dan mempertanggungjawabkan lembaga pendidikan yang dipimpinnya secara profesional.
Dalam pandangan Islam, kepemimpinan merupakan fitrah bagi setiap manusia yang di amanahi oleh Allah SAW., untuk menjadi khalifah fil ardi (wakil Allah) di muka bumi, yang bertugas merealisasikan misi sucinya sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta.
”Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Q.S.al-Baqarah: 30)

Selain sebagai khalifah, manusia juga memiliki peran sebagai Abdullah (hamba Allah) yang senantiasa patuh dan terpanggil untuk mengabdikan segenap dedikasinya di jalan Allah.  Sabda Rasulullah “Setiap kamu adalah pemimpim dan tiap-tiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya”. Manusia yang diberi amanah dapat memelihara amanah tersebut dan Allah telah melengkapi manusia dengan kemampuan konsepsional atau potensi fitrah, serta kehendak bebas untuk menggunakan dan memaksimalkan potensi yang dimilikinya.
”Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" (Q.S.al-Baqarah:31).

Dengan demikian, maka menjadi seorang pemimpin haruslah amanah dalam menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya untuk mensejahterakan ummat dengan sebaik-baiknya, karena dengan kepemimpinan kita akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah SWT.
Pendidikan merupakan wahana yang paling strategis karena diharapkan dapat mempersiapkan generasi muda yang sadar Iptek, kreatif, dan memiliki solidaritas sebagai gambaran manusia moderen pada masa yang akan datang. Begitu strategisnya peran pendidikan dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia, namun fakta menunjukkan bahwa masih banyak permasalahan yang berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan di Indonesia yang pada intinya bertumpu pada produktivitas pendidikan yang masih rendah, dan salah satu faktor yang diduga ikut mempengaruhi hal tersebut diantaranya gaya kepemimpinan kepala sekolah.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan peneliti pada saat penelitian awal dibeberapa Sekolah Menengah Atas Negeri di kota Cirebon, diperoleh informasi dan gambaran masalah yang diduga ikut mempengaruhi rendahnya motivasi kerja guru antara lain: Kepala sekolah kurang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk memberikan saran dan pendapat kepada pimpinannya. Kepala sekolah kurang melakukan komunikasi  dengan para guru, dan staf. Hal ini ditandai dengan tidak efektifnya / tidak adanya pertemuan yang bersifat rutin antara staf dan pimpinannya, misalnya rapat staf, arisan atau yang lainnya yang diduga dapat meningkatkan motivasi kerja guru.
Hal lain yang diperoleh peneliti dibeberapa Sekolah Menengah Atas Negeri di Kota Cirebon, kurangnya kepedulian kepala sekolah terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi staf dibawahnya, dan kompensasi yang diperoleh guru masih rendah bila dibandingkan dengan tingkat pengabdian dan pengorbanan yang diberikan maupun masa kerja yang dimiliki masing-masing staf atau pegawainya.
Hal ini tampak jelas ketika dibeberapa sekolah masih terdapat guru yang belum mendapatkan sertifikasi guru. Ketidak harmonisan hubungan antar sesama staf, dan kurangnya rasa persamaan gurur, masih cenderung membentuk kelompok sendiri-sendiri terutama dibeberapa sekolah yang berada pada kategori sedang, serta dukungan terhadap peningkatan sumberdaya guru/ staf kurang. Hal ini tampak pada rendahnya dukungan/ bantuan pendidikan dan pelatihan dalam rangka peningkatan sumberdaya guru yang ada untuk menjadi lebih profesional. Padahal sekolah sebagai lembaga tempat penyelenggaraan pendidikan, merupakan sistem yang memiliki berbagai perangkat dan unsur yang saling berkaitan dan memerlukan pemberdayaan. Secara internal sekolah memiliki perangkat guru, murid, kurikulum, sarana, dan prasarana. Secara eksternal sekolah memiliki hubungan dengan instansi lain baik secara vertikal maupun horizontal.
Di dalam konteks pendidikan, sekolah memiliki stakeholders (murid, guru, masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha). Oleh karena itulah sekolah memerlukan pengelolaan atau manajemen yang efektif, akurat agar dapat memberikan hasil optimal sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan semua pihak yang berkepentingan stakeholders.
Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong keberhasilan sekolah untuk mewujudkan visi, misi, tujuan, dan sasaran sekolah melalui program-program yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap. Oleh sebab itu, kualitas kepemimpinan kepala sekolah sebagai kunci keberhasilan sekolah. Kepala sekolah yang berhasil apabila mereka memahami keberadaan sekolah sebagai organisasi yang komplek dan unik, serta mampu melaksanakan peranan kepala sekolah sebagai seseorang yang diberi tanggungjawab untuk memimpin sekolah sehingga mampu mewujudkan budaya organisasi secara positif sehingga motivasi kerja guru untuk membangun kultur pendidikan yang berkualitas dapat dilaksanakan secara bersama-sama dengan unsur stakeholders yang ada.
Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan di sekolah harus menjadi katalisator, dinamisator, dan fasilitator kelompok stakeholder sekolah dalam menggerakkan segenap potensi tenaga pendidikan, dan atau kependidikan khususnya guru dalam rangka mencapai tujuan dengan cara membantu guru-guru secara kooperatif untuk meningkatkankan produktifitas kinerjanya, karena para guru menginginkan kepala sekolah yang bukan saja secara teoretis memiliki syarat-syarat kepemimpinan pada umumnya, tetapi yang terpenting adalah penerapannya melalui kepemimpinan yang benar-benar dirasakan dan berpengaruh terhadap motivasi kerja guru.
Padahal keberhasilan pendidikan tidak hanya semata-mata ditentukan oleh kepemimpinan kepala sekolah, tetapi juga ditentukan oleh faktor guru. Oleh karena itu, upaya meningkatan motivasi kerja guru untuk profesionalisme guru harus terus dilakukan oleh kepala sekolah melalui pengembangan tenaga pendidikan, maka yang menjadi kunci adalah mendorong motivasi kerja guru secara professional dan proforsional.
Berdasarkan hal tersebut di atas, disadari bahwa kepala sekolah melalui proses kepemimpinannya, dan guru sebagai seorang pendidik dan pengajar, akan sangat menentukan terciptanya budaya sekolah yang efektif sehingga membangkitkan motivasi kerja guru. Fenomena yang terjadi di Sekolah Menengah Atas Negeri kota Cirebon, motivasi kerja guru masih terlihat rendah, sehingga berdampak pada rendahnya kinerja guru (rendahnya pengabdian, rendahnya tanggung jawab, disiplin, kemampuan kerja, kreativitas, penguasaan kompetensi pedagogis, kompetensi sosial, kompetensi kepribadian serta rendahnya kompetensi dan sikap profesional).
Motivasi kerja dapat dijadikan kekuatan untuk mendorong seorang guru agar melakukan pekerjaannya dengan penuh semangat dan profesional. Seorang guru akan memiliki motivasi kerja yang tinggi, apabila kebutuhannya terpenuhi baik kebutuhan lahir maupun kebutuhan bathin. Dengan motivasi kerja guru yang tinggi, diharapkan para guru terdorong untuk bekerja semaksimal mungkin dalam melaksanakan tugasnya. Kenyataannya, para guru di Sekolah Menengah Atas Negeri di Kota Cirebon tidak selalu bekerja dengan motivasi yang tinggi.
Interaksi antara sesama kolega guru dilingkungan SMA Negeri kota Cirebon cenderung kurang baik. Hal ini tampak pada guru yang bekerja dengan motivasi yang rendah. Rendahnya motivasi kerja para guru di Kota Cirebon, terlihat dari kurangnya upaya mereka untuk mempersiapkan rencana pembelajaran, kurangnya kegigihan mereka untuk mendorong keberhasilan belajar siswa, kurangnya upaya mereka untuk meningkatkan kompetensi diri, seringnya mereka absen mengajar karena berbagai alasan yang terkadang kurang masuk akal. Peneliti melihat cukup banyak gejala-gejala ini pada beberapa Sekolah Menengah Atas Negeri di Kota Cirebon. Sudah tentu persoalan ini harus diatasi dengan menelusuri faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya motivasi kerja guru.
Agar guru memiliki motivasi yang kuat, mereka harus bekerja dalam lingkungan sekolah atau budaya organisasi yang kondusif. Budaya organisasi merupakan unsur dinamis yang ada pada tempat dimana ia bekerja. Budaya organisasi bagi guru merupakan segala sesuatu yang ada didalam organisasi sekolah, baik fisik maupun sosial. Budaya organisasi yang baik akan memberikan dorongan (motivasi) kepada setiap individu yang ada, dan dalam struktur organisasi tersebut harus dapat bekerja dengan nyaman dan maksimal. Sebaliknya budaya organisasi yang kurang mendukung akan mempengaruhi motivasi kerja.
Dalam pengamatan peneliti, terhadap beberapa sekolah di SMA Negeri kota Cirebon, faktor budaya organisasi ini memang kurang kondusif secara struktural, dan sosial. Hubungan antar personal dikalangan warga sekolah, tampak kurang kondusif hal ini ditandai dengan kurangnya keselarasan, kerjasama, dan adanya kesenjangan sosial yang cukup lebar antara pengurus/ pejabat sekolah dengan para guru. Sudah barang tentu kondisi ini akan berpengaruh terhadap rendahnya motivasi kerja guru, sehingga mereka kurang terdorong bekerja secara maksimal.
Selain budaya organisasi, peran kepemimpinan kepala sekolah juga penting bagi peningkatan motivasi kerja guru. Dalam menjalankan roda kepemimpinannya, kepala sekolah perlu menggunakan strategi disamping taktik atau strategi kepemimpinan yang tepat. Strategi kepemimpinan ini, berisikan gaya dan seni untuk memperoleh dan memanfaatkan dukungan dalam melaksanakan kebijakan untuk mencapai maksud yang diinginkan, serta berisi patokan yang perlu dipegang untuk mengerjakan upaya-upaya guna mengejar pencapaian tujuan. Selain itu, kepala sekolah harus memahami setiap individu bawahannya, serta menyesuaikan dengan situasi, sifat dan kondisi yang ada agar gaya yang akan digunakan tidak mengakibatkan hal-hal yang negatif, tetapi harus dapat mendorong dan membangkitkan para guru agar bekerja lebih sungguh-sungguh sehingga tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya dapat tercapai.
Pengamatan peneliti, terhadap beberapa sekolah SMA Negeri yang ada di Kota Cirebon, faktor gaya kepemimpinan kepala sekolah ini perlu memperoleh perhatian yang serius. Diantara sekolah tersebut, ada terdapat kepala sekolah yang memimpin dengan gaya yang cenderung otoriter. Kebanyakan kepala sekolah ditunjuk dan diangkat oleh birokrat, sehingga mereka sering menerapkan kebijakan yang lebih pro pada kepentingan birokrat yang ada di daerah kota Cirebon ketimbang pada kepentingan para guru. Memang ada kepala sekolah dengan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan harapan guru, akan tetapi mereka juga tidak dapat berbuat banyak karena dibawah kendali birokrat. Para guru hanya dapat pasrah menerima keadaan, yang berakibat pada rendahnya motivasi kerja guru.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk mengetahui secara mendalam dan komprehensif melalui studi ilmiah tentang hubungan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dan budaya organisasi dengan motivasi kerja guru pada Sekolah Menengah Atas Negeri di Kota Cirebon.

B.       Masalah Penelitian
            1.    Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka dapat diidentifikasikan masalah-masalah yang berkaitan dengan penelitian ini antara lain:
a.       Kemampuan kepala sekolah untuk memberikan motivasi masih rendah, sehingga guru masih kurang giat dalam menjalankan tugas-tugasnya, datang terlambat, mengajar tidak tepat waktu. Contoh kepala sekolah jarang memberikan pujian jika ada guru yang berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik. Demikian sebaliknya jika ada guru yang melakukan kesalahan dalam bekerja, kepala sekolah enggan memberikan arahan agar guru dapat bekerja secara efektif;
b.      Masih terdapat gaya kepemimpinan kepala sekolah yang otoriter/ peodal. Masih terdapat gaya pengambilan keputusan yang tidak melibatkan stafnya, sehingga berdampak pada kurangnya kesempatan untuk meningkatkan karier bagi bawahan, serta sempitnya ruang guru untuk memberikan saran dan pendapatnya kepada pimpinan;
c.       Kurangnya komunikasi secara langsung antara guru dan pimpinan, hal ini ditandai dengan kurang efektifnya pertemuan yang bersifat rutin antara guru dan pimpinan;
d.      Kurangnya perhatian pimpinan terhadap guru baik yang rajin maupun yang tidak rajin, terlihat, pimpinan tidak memberi ruang cukup untuk bawahannya berkarier dan meningkatkan kompetensinya, dukungan terhadap peningkatan sumber daya guru kurang, ditandai masih rendahnya dukungan / bantuan pendidikan dan pelatihan bagi guru;
e.       Motivasi guru rendah. Rendahnya motivasi kerja guru timbul karena kompensasi yang diterima guru masih rendah/ masih terdapat kesenjangan antara guru yang sudah disertifikasi dengan yang belum disertifikasi sehingga penghasilan bulanan guru berbeda;
f.       Adanya ketidak harmonisan hubungan antara sesama guru dan kurangnya rasa kebersamaan diantara guru, sehingga berdampak pada  kecenderungan membentuk kelompok sendiri-sendiri di sekolah;
g.      Masih terdapat guru yang tidak sesuai dengan kualifikasi dan kompetensi yang dimiliki atau mengajar bukan mata pelajaran yang diampunya, masih terdapat guru yang berstrata pendidikan diploma;
h.      Nilai-nilai budaya organisasi di sekolah belum dipegang teguh oleh para guru, hal ini terilihat masih adanya guru yang mengabaikan tugas mengajar dan pembimbingan siswa dalam kegiatan ekstra kurikuler, dan tata tertib sekolah yang sudah disepakati kurang dijalankan dengan baik.

            2.    Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang, dan identifikasi masalah yang telah dikemukakan di atas, penelitian ini dibatasi pada upaya untuk menganalisis dan mengungkap hubungan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dan budaya organisasi dengan motivasi kerja guru pada Sekolah Menengah Atas Negeri di Kota Cirebon. Dengan istilah lain, penelitian dibatasi pada masalah:
1.      Motivasi kerja guru sebagai variabel endogen (Y);
2.      Gaya kepemimpinan kepala sekolah sebagai variabel eksogen (X1)
3.      Budaya organisasi sebagai variabel eksogen (X2).

C.    Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, identifikasi, dan pembatasan masalah tersebut di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut:
1.   Apakah terdapat hubungan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan motivasi kerja guru di Sekolah Menengah Atas Negeri Kota Cirebon?
2.  Apakah terdapat hubungan antara budaya organisasi dengan motivasi kerja guru di Sekolah Menengah Atas Negeri Kota Cirebon?
3.  Apakah terdapat hubungan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dan budaya organisasi secara bersama-sama dengan motivasi kerja guru di Sekolah Menengah Atas Negeri Kota Cirebon?.
D.      Manfaat Penelitian
Hasil penelitian mengenai hubungan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dan budaya organisasi dengan motivasi kerja guru ini dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1.    Manfaat Teoretis
Secara teoretis penelitian ini bermanfaat sebagai bahan kajian untuk mengembangkan konsep-konsep administrasi pendidikan terutama mengenai konsep-konsep tentang kepemimpinan kepala sekolah, budaya organisasi dan motivasi kerja guru.
2.    Manfaat Praktis
Secara praktis, hasil penelitian ini dapat bermanfaat sebagai berikut:
a.    Penelitian ini diharapkan akan bermanfaat bagi peneliti maupun pembaca lainnya untuk menambah wawasan, pengetahuan, dan kemampuan dalam menganalisis motivasi kerja guru, gaya kepemimpinan kepala sekolah, dan budaya organisasi.
b.    Masukan informasi tambahan bagi kepala sekolah, dan guru khususnya di Sekolah Menengah Atas Negeri Kota Cirebon tentang motivasi kerja guru.
c.    Masukan bagi dinas pendidikan kota Cirebon terkait dalam memberikan penilaian motivasi kerja guru dan gaya kepemimpinan kepala sekolah di Sekolah Menengah Atas Negeri Kota Cirebon.
d.   Pertimbangan bagi pihak terkait dalam upaya melaksanakan perbaikan dan peningkatan motivasi kerja guru dan budaya organisasi sekolah di Sekolah Menengah Atas Negeri Kota Cirebon.
e.    Pertimbangan bagi pembuat kebijakan dalam meningkatkan kualitas mutu pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negeri Kota Cirebon.
f.   Bahan feed back bagi efektivitas gaya kepemimpinan kepala sekolah di Sekolah Menengah Atas Negeri Kota Cirebon sehingga menjadi lebih berkualitas. 
g. Bagi peneliti, penelitian ini bermanfaat untuk peningkatan karir dan pengembangan profesi.
Share this article :
 
Support : CAKRAWALA ILMU
Copyright © 2014. Administrasi Pendidikan - All Rights Reserved
Template by Maskolis Modify by CaraGampang
Proudly powered by Cirebonterkini.com